Sunday, November 1, 2020

IAKMI - VAKSINASI BUKAN SEGALA - GALANYA, TAPI....



Rencana vaksinasi Covid-19 telah mendapat banyak masukan. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menuturkan bahwa vaksinasi bukanlah segala-galanya. Bukan juga langkah akhir untuk penanggulangan pandemi Covid-19.

Ede Surya Darmawan selaku Ketua Umum IAKMI menyebutkan bahwa vaksinasi hanya merupakan satu bagian dari intervensi kesehatan dalam memberikan perlindungan spesifik dari penularan penyakit tertentu. Perlindungan tersebut juga bisa terjadi pada tingkat individu atau skala komunitas luas.

”IAKMI mendukung pemerintah untuk pengadaan vaksin Covid-19 sebagai salah satu upaya penanganan pandemi,” paparnya kemarin (25/10). Namun, Ede mengingatkan agar vaksin Covid-19 dibuat dengan baik. Vaksin tersebut harus memiliki keamanan sehingga tidak menimbulkan dampak buruk pascaimunisasi. ”Vaksin harus memiliki tingkat kemanjuran, yaitu mampu membentuk antibodi Covid-19 yang dapat memberikan perlindungan untuk waktu yang lama,” ucapnya.

Untuk penelitian vaksin pun harus dibuka. Contohnya, tentang uji coba vaksin Sinovac kepada 1.620 orang di Bandung. Selain terbuka, riset juga harus dikurasi oleh peneliti internasional yang bereputasi. Tak lupa juga izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus ada.

Akan tetapi, yang perlu terus-menerus dilakukan adalah tentang pelaksanaan protokol kesehatan. Perilaku masyarakat yang disiplin untuk mengenakan masker, cuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak interaksi merupakan kunci untuk menghindari penularan Covid-19. Ede menyebutkan, hal itu bisa dilakukan dengan cara edukasi pencegahan penularan virus dan komunikasi perubahan perilaku masyarakat. Seluruh unsur juga harus dilibatkan.


”IAKMI berpendapat, faktor paling penting untuk mengendalikan Covid-19 adalah meningkatkan upaya kesehatan masyarakat. Output-nya adalah kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat,” ujarnya. Selain itu, pengawasan dari aparat serta tokoh masyarakat juga diperlukan. Dan untuk upaya yang terakhir adalah adanya penerapan sanksi.

Berkenaan dengan kehati-hatian dalam vaksinasi, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD(K) selaku Ketua Satgas Covid Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) sebelumnya telah menyebutkan, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk pemilihan vaksin. Di antaranya, efektivitas, imunogenisitas, serta keamanan vaksin yang akan digunakan sudah terbukti. Hal itu dibuktikan dengan adanya hasil yang baik melalui uji klinis fase ketiga yang telah dipublikasikan.

Pelaksanaan program vaksinasi, dia menyebutkan, memerlukan adanya persiapan yang baik dan komprehensif. Termasuk tentang penyusunan pedoman-pedoman vaksinasi oleh perhimpunan profesi. Tak hanya itu, diperlukan juga pelatihan untuk petugas vaksin. Dan yang terakhir, proses sosialisasi bagi seluruh masyarakat dan membangun jejaring untuk penanganan efek samping vaksinasi.

Berlokasi di lain tempat, Presiden Joko Widodo optimistis bahwa mengenai krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan segera berakhir. Dia mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi sampai menyentuh angka -5,32 persen. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan negara lain, kontraksi itu masih tergolong landai.

”Dan saya meyakini, insya Allah (Indonesia) mampu segera recovery, mampu melakukan pemulihan,” jelasnya Sabtu lalu (24/10). Yang berarti, untuk pertumbuhan ekonomi akan segera kembali ke jalur positif. Dia menyebutkan, beberapa indikator strategis telah menunjukkan tren perbaikan, khususnya pada kuartal III 2020. Seperti contohnya, untuk harga bahan pokok seperti beras masih stabil. ”Jumlah penumpang angkutan udara, pesawat, di bulan Agustus naik 36 persen dari bulan sebelumnya,” imbuh presiden. Neraca perdagangan pada bulan September lalu telah mengalami surplus USD 2,44 miliar dan purchasing managers index (PMI) juga kembali masuk tahap ekspansi. Tak hanya itu, terjadi peningkatan konsumsi.


Indikator-indikator itu telah menunjukkan bahwa peluang untuk mengembangkan usaha semakin terbuka. Dengan begitu, untuk pertumbuhan ekonomi bisa terus membaik dan penciptaan lapangan kerja semakin terbuka. Harapannya, setelah pandemi bisa diatasi, ekonomi akan bisa tancap gas karena sudah ada fondasi yang kuat ketika masih pandemi.

Sementara itu, kasus harian Covid-19 tengah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasar pada data Satgas Penanganan Covid-19 kemarin (25/10), untuk kali pertama persentase kasus sembuh telah mencapai 80 persen atau tepatnya 80,5 persen dari total kasus terkonfirmasi. Sedangkan, sisa persentase tersebut ditempati angka kasus aktif 16,1 persen serta kasus meninggal 3,4 persen.

Prof Wiku Adisasmito selaku Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 menjelaskan, untuk penurunan kasus aktif terlihat signifikan apabila dibandingkan dengan masa awal pandemi. Dia mengatakan, pada bulan Maret, rata-rata kasus aktif berada di angka 91,26 persen. ”Angka ini sangat tinggi. Kemudian, ini terus mengalami penurunan,” ucapnya. Penurunan grafik juga terlihat lagi pada April menjadi 81,57 persen. Pada Mei menurun lagi menjadi 71,35 persen; Juni 57,25 persen; Juli 44,02 persen; Agustus 28,26 persen; September 23,74 persen; dan per 22 Oktober menjadi 16,8 persen. Menurut Wiku, hal itu merupakan perkembangan yang sangat baik. ”Harapannya dapat terus menurun dan ditekan hingga tidak ada kasus aktif sama sekali,” ucapnya.


No comments:

Post a Comment