Thursday, October 14, 2021

Presiden Prancis Setujui Mengembalikan Dubesnya untuk AS

 

Simba Poker - Presiden Republik Prancis, Emmanuel Macron, sumber foto: ABDULMONAM EASSA / POOL / AFP


Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyetujui rencana untuk mengembalikan duta besarnya untuk Amerika Serikat setelah sebelumnya ditarik. Keputusan itu dikonfirmasi oleh Kantor Kepresidenan Prancis dan Gedung Putih AS pada Rabu (22/09) setelah Macron dan Presiden Joe Biden berbicara melalui telepon.


Meski hubungan sudah membaik, Prancis dikabarkan masih akan mengangkat pembahasan Pakta AUKUS sebagai topik politik utama pada KTT Uni Eropa bulan depan, seperti dilansir Euronews.


Ditarik setelah Pakta AUKUS


Pakta keamanan AUKUS yang disepakati oleh Australia, Inggris dan Amerika Serikat pada 15 September ternyata membawa dampak negatif yang serius. Dikutip dari Euronews, menanggapi kesepakatan mundur yang merugikan Prancis, Presiden Macron pada Jumat (17/09) memanggil kembali duta besarnya untuk AS dan Australia.


Penarikan itu dicap sebagai respons terhadap kerugian ekonomi dan mengurangi kepercayaan Prancis di negara-negara ini. Menurut Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, dia merasa Prancis sedang "ditikam dari belakang" oleh sekutunya sendiri.


Sebelumnya, Australia telah menyepakati kontrak pembelian armada kapal selam baru yang diperkirakan senilai 90 miliar dolar AS atau setara dengan 1,2 kuadriliun rupiah. Namun kontrak tersebut dibatalkan secara sepihak oleh pemerintah Australia setelah mendapatkan jaminan pembangunan dan teknologi kapal selam bertenaga nuklir dari Amerika Serikat.


Biden dan Macron dikabarkan akan bertemu pada bulan Oktober

https://twitter.com/DJJudd/status/1440711774806835210?s=20


Pembicaraan Macron-Biden melalui telepon setelah Pakta AUKUS dan penarikan duta besar Prancis memberikan angin segar. Berdasarkan pernyataan resmi dari Gedung Putih, keduanya sepakat perlu adanya komunikasi yang jelas agar masing-masing pihak bisa saling memahami.


Sebagai kelanjutan dari pembicaraan antara kedua pemimpin, Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa Presiden Macron dan Biden akan bertemu di Eropa pada bulan Oktober.


Belum diketahui pasti dalam konteks apa keduanya akan bertemu bulan depan. Namun dipastikan akan ada agenda khusus yang tengah dikejar Prancis dan Amerika Serikat di tengah kontestasi geopolitik.


Masa depan aliansi AS dan Prancis


Sebagai salah satu sekutu yang paling terpercaya, Prancis tampak tidak percaya ketika AS bergerak tanpanya dalam menciptakan koalisi AUKUS. Secara hitam-putih, Prancis dan AS masih menjadi sekutu di bawah naungan Pakta Pertahanan NATO. Namun Paris diketahui telah lama menginginkan pengaruh yang jauh lebih besar dan kompleks bagi kawasan Eropa.


Dilansir Euronews, Prancis dan Jerman dikenal sebagai pelopor gagasan pembentukan Tentara Uni Eropa untuk menggantikan peran NATO yang dianggap tidak relevan. Nantinya Tentara Uni Eropa akan dikuasai secara eksklusif oleh negara-negara Eropa dan minim pengaruh atau intervensi dari sekutu terkuatnya yaitu Amerika.


Sampai-sampai ada berita yang dimuat Daily Telegraph pada Rabu (22/09) di mana Presiden Macron disebut-sebut akan memberikan Uni Eropa kursi tetap di Dewan Keamanan PBB untuk Prancis secara cuma-cuma kepada Uni Eropa dengan satu syarat. . Syaratnya tidak lain Uni Eropa harus secara aklamasi menyetujui rencana pembentukan Uni Eropa Army.


Pemerintah Prancis diketahui telah membantah beredarnya berita tersebut. Namun dengan semakin tidak menentunya aliansi dan hubungan antara Perancis dan Amerika Serikat tentunya segala kemungkinan bisa terjadi.

No comments:

Post a Comment